Minggu, 26 Februari 2012

Dua Kakek Saya...

Saya punya dua orang kakek dari Ibu saya. Seorang kakek kandung yang selalu dipanggil ‘Ayah’ dan seorang lagi kakek tiri yang dipanggil ‘Opa’. Dua-duanya berada di Padang, di tanah kelahiran Ibu saya.

Ayah, begitu Ibu memanggilnya, hidup terpisah dari rumah Oma, nenek saya. Mereka bercerai tepat ketika Ayah ditangkap atas tuduhan bahwa dirinya punya nama yang mirip dengan pemimpin PKI. Ayah PKI, semua petani dan guru di belahan Indonesia kebanyakan tergabung dalam organisasi ini pada tahun 1960-an. Ia dijatuhi hukuman pengasingan selama 13 tahun yang entah akan dikirim ke mana, maka itu Oma mengambil keputusan untuk bercerai karena baginya tidak mungkin menunggu selama 13 tahun, hidup harus terus berjalan baginya dan keenam anaknya. Selepas Ayah ditahan, Oma beserta Ibu saya pun ikut-ikutan di bawa ke gua Jepang, diperiksa apakah mereka ini Gerwani atau bukan. Sayangnya, cuma sekelumit cerita itu saja yang saya dapatkan dari Ibu saya tentang Ayah dan PKI.

Apa yang saya ingat dari Ayah? Kakek kandung saya? Dia adalah orang penyayang, lembut dan pintar. Saya selalu senang ketika kami ke Padang, saya akan mengunjunginya di sebuah rumah Gadang yang kuno dan klasik. Ketika kaki saya menginjak rumah itu ada derik dan bau kayu yang khas. Kakek akan menyambut saya dengan senang dan saya akan menikmati pertunjukkan andalannya, yaitu Sulap. Jika sekarang alat-alat sulap dijual instan, Ayah membuatnya sendiri dari bahan-bahan bekas, misalnya bekas bungkus korek api, plastik dan lain-lain.

Namun, ketika saya beranjak remaja, saya mulai suka untuk mengurung diri seperti kebanyakan remaja lainnya. Kesalahan terbesar saya kepadanya adalah, ketika sulap sudah bukan jadi hal menarik bagi seorang remaja, saya gampang bosan. Saat itu Ibu dan Bapak saya sedang berbincang serius di ruang tamu bersama Ayah, sedangkan saya bermain sendiri, waktu itu saya kelas 2 SMP. Karena terlalu bosan dan rasa iri terhadap kakak dan adik saya yang tidak ikut dalam kebosanan ini, saya memaksa orang tua saya untuk pulang, namun ketika mereka tetap melanjutkan obrolan, saya akhirnya marah dan bilang akan pulang sendiri. Orang tua saya pun panik mengejar saya dan terpaksa pamit. Setelahnya saya dapat masalah besar, dicaci keluarga besar, namun bukan hal itu yang bikin saya menyesal, melainkan tatapan Ayah ketika ia juga khawatir melihat saya yang keluar dari rumahnya dengan marah. Mata itu terkenang hingga sekarang dan bagi yang tahu rasa bersalah, ia seperti tombak, akan menghujam hatimu, membuatmu merasakan nyeri dan malu. Saya tak sempat meminta maaf atau memperbaiki hubungan karena dua tahun setelahnya, ia meninggal dunia karena sakit…


***


Kakek saya yang kedua, Opa, adalah Kakek Tiri. Ia menikah dengan Oma dengan paut umur 10 tahun, di mana dirinya jauh lebih muda. Opa dilahirkan dari keluarga Kristiani dan mempunyai peranakan Manado- Cina-Belanda. Ia pelaut kadang merompak dan guci-guci hasil rompakannya nangkring dengan manis di rumah. Oma dan Opa punya dua anak, dua-duanya perempuan, jadi Ibuku punya dua saudari tiri. Opa juga seorang yang penyayang. Ia bisa berbahasa Padang namun biasanya dia suka menggunakan bahasa betawi, hal itu tidak menghilang hingga saya besar.

Opa punya keahlian dalam merakit barang elektronik, membetulkan sepatu atau membuat meja dan kursi. Kebanyakan, rumah Oma dulunya dipenuhi dengan furniture bikinannya. Ia senang makan mie instan dan kalau ketahuan Oma, akan dimarahi. Kelurga Opa kebanyakan menetap di Jakarta. Ia tiap tahun akan pergi ke Jakarta untuk mengunjungi adik-kakaknya yang tinggal di sana.

Saya lupa apakah Opa sering bercerita tentang masa lalunya atau tidak (dasar pendengar yang buruk), namun sepertinya sih jarang. Opa kadang nakal, ia biasa mengakali PLN dengan mengutak-atik meteran listrik di depan rumahnya, biar biaya listrik makin murah katanya.

Opa senang mengantar dan menjaga cucu-cucunya yang masih kecil-kecil. Pagi-pagi Opa akan mengantar cucunya ke sekolah, lalu saat istirahat mengantar makanan untuk cucunya, dan menjemput mereka saat pulang sekolah. Saat liburan, jika ia ikut, Opa akan menjaga kala anak-anak berenang atau sedang bermain di wahana permainan. Ia pun bisa menjadi tim yang baik untuk Oma, misalnya, jika Oma yang memasak, ia yang bersihkan peralatan masak. Oma mencuci piring, ia mencuci baju. Oma beres-beres rumah, ia membetulkan furniture yang rusak.

Hingga kemudian, di saat saya berniat untuk datang ke Padang saat maret, sebuah kabar tiba-tiba saja datang. Opa meninggal. Ibu saya menangis ditelepon, dan saya putuskan bahwa meski uang tersisa sedikit, saya mesti ke Padang untuk memberikan penghormatan terakhir untuknya. Saya yakin hei Opa, walau beberapa orang mungkin tidak setuju menyebutkan sejarah dirimu perompak dan kristiani, bagi saya tidak masalah, kamu tetap orang baik meski dulunya perompak dan kristiani. Buktinya, orang gila yang saban hari lewat kamu beri rokok, orang yang mengaku baik saja merasa lebih baik usir itu orang gila, dibanding kasih sedikit nasi, karena kamu tahu, orang gila, juga manusia yang hidup, makhluk hidup.

Dua kakek saya berpulang ke tanah, apa lagi sih yang ada setelah kematian? Kenangan bukan? Inilah yang kadang-kadang menyiksa bagi yang hidup, karena kenangan itu raja… sembunyi dalam liku kecil neuron kita...

Selasa, 07 Februari 2012

Paranormal Activity 3


Oke. Akhirnya saya nonton Paranormal Activity 3. Tadinya saya underestimate film ini, ah saya pikir, ini cuma film murahan dari segi akting dan sinematografi, mungkin ini akibat saya terlanjur kecewa sama acting Gwyneth Paltrow di Iron Man 1 #eh, anyway… Berikut resensinya, enjoy…


Paranormal Activity 3 adalah kelanjutan dari Paranormal Activity dan Paranormal Activity 2 (saya belom nonton yang ini) tapi saya simpulkan bahwa dalam Paranormal Activity 3 adalah jawaban dari misteri 2 film sebelumnya. Pada awalnya film dimulai pada akhir tahun 1990-an bersama Katie dewasa yang sedang mengandung lalu kemudian datang Kristi yang membawa beberapa kaset video beta yang akan dititipkan pada gudang bawah rumah Katie. Kemudian setting berganti lagi menjadi tahun 2000 pada rumah yang sama dalam keadaan berantakan seperti habis dirampok dan kaset video yang waktu itu berada di ruang penyimpanan bawah tanah, hilang.


Setelah beberapa teaser, film sebenarnya pun dimulai, kali ini setting film diambil dengan latar belakang tahun 1988, saat Katie dan Kristi masih kecil. Mereka hidup disebuah rumah besar bersama Ibunya, Julie (Lauren Bittner) dan kekasih Ibu mereka, Dennis (Chris Smith). Keanehan mulai terjadi, terutama menimpa si bungsu Katie (Chloe Csengery) yang mempunyai teman khayalan bernama Toby, yang sebenernya bukan khayalan sama sekali.


Kejadian-kejadian aneh mulai menimpa keluarga ini, seperti suara-suara yang cukup menganggu yang didengar Dennis saat ia bekerja di ruang bawah, mengedit video perkawinan. Maka dari itu Dennis memutuskan untuk memasang beberapa kamera untuk merekam kegiatan dalam rumah. Satu di kamar tidurnya, satu di kamar anak-anak yang kebetulan tidur bersama di lantai atas, satu lagi, dengan menggunakan rangka kipas angin, ditaruh diantara ruang tamu dan ruang makan.


Keanehan segera terjadi dan tertangkap oleh kamera yang menyala dan diganti kasetnya secara berkala. Mulai dari Katie yang selalu bangun malam-malam karena ‘temannya’ Toby mengajak bermain. Lampu yang tiba-tiba menyala dengan terang kemudian meledak. Kemudian baby sitter yang ketakutan karena mengalami kejadian ‘paranormal’. Kristi yang mulai ketakutan akan keberadaan Toby. Rekan kerja Dennis yang meninggalkannya karena mengalami ‘serangan’ ketika diminta menjaga Kristi di siang bolong.


Film dirangkai dengan sistematis oleh Henry Joost dan Ariel Schulman. Intensitas dijaga hingga mencapai puncaknya yang hadir di akhir film. Hal lain yang patut dipuji adalah akting yang begitu alami dilakukan oleh pemain-pemainnya termasuk kedua aktris cilik yang berperan sebagai Kristi dan Katie. Henry Joost dan Ariel Schulman juga pandai menangkap momen-momen tertentu, seperti saat gigi susu Katie akan tanggal, ah itu kan’ sungguh momen yang tidak bisa direka-reka, apa jangan-jangan itu bohongan dan saya tertipu?


Setelah menonton film ini, apa yang dapat saya simpulkan? Bahwa sebenarnya kehadiran makhluk halus yang benar-benar tak berwujud dan transparan sebenarnya tidaklah terlalu menakutkan. Namun ketika dia hadir dengan wujud yang menyeramkan serta memiliki kemampuan membunuh… Itu yang kita semua takutkan… bukan?

Senin, 26 Desember 2011

Naturalisasi di Laga Mode


Berapa banyak model berwajah Indonesia asli yang menghiasi cover majalah-majalah yang beredar di tanah air? Yang melenggang di catwalk? Yang menghiasi iklan televisi maupun cetak? Mungkin bisa dihitung dengan jari jumlahnya. Serbuan model kaukasian makin marak berlaga di dunia mode belakangan ini, seiring dari banyaknya permintaan pemain-pemain yang bergerak di bidang Industri Mode; majalah, pagelaran busana, iklan, dan lain sebagainya. Seperti yang diakui pengamat mode, Muara Bagdja, menurutnya, peningkatan kebutuhan model asing terjadi karena beberapa alasan; seperti pengaruh globalisasi, bahwa semua hal yang mengacu pada ukuran standar internasional (dari luar) dianggap bagus dan ia mengatakan bahwa masyarakat menganggap citra cantik adalah berkulit putih, berambut panjang, berhidung mancung, tinggi dan kurus, demikian yang saya kutip dari Harian Seputar Indonesia edisi cetak, Jumat, 2 September 2011.

Sebentar, rasanya ada yang salah dari testimoni di atas. Sebelumnya mari kita lakukan kilas balik mode era 1980-1990-an. Saat itu dunia mode dihiasi oleh model-model ‘berwajah’ Indonesia, seperti Enny Sukanto, Titi Qadarsih, Atiek Sinuko, Nani Sakrie yang berjaya di tahun 80-an kemudian disusul oleh Dhani Dahlan, Ratih Sanggarwati, Kintan Umari, Okky Asokawati, Nana Krit, Vera Kinan, ataupun Ira Duati yang namanya masih diperhitungkan dipanggung mode bahkan hingga kini. Memang, ada beberapa model dengan wajah blasteran yang juga muncul kala itu, seperti Larasati Gading, Licu ataupun Saraswati Harsono, namun perbandingannya tidak seperti yang terjadi sekarang.

Fenomena apa yang terjadi hari ini?

Perlu dicatat bahwa dunia mode tidak memiliki ukuran perbandingan yang jelas bagi konsumennya, contoh : Baju yang dikenakan model dalam sebuah peragaan atau pemotretan belum tentu sesuai dengan bentuk tubuh masing-masing target konsumen. Sementara itu, model kaukasian mempunyai torso (panjang badan) lebih tinggi dibandingkan dengan orang Indonesia pada umumnya. Maka itu mari kita bayangkan sejenak, ketika baju yang diperagakan diproduksi secara masal sesuai ukuran model, tentu tidak akan sesuai dengan ukuran badan perempuan Indonesia pada umumnya.

Saya teringat pada sebuah acara audisi yang pernah saya ikuti yaitu ESMOD (Sekolah Mode) Graduation 2010, di Jakarta, seorang murid berkata pada agency-agency yang hadir membawa modelnya, bahwa ia menginginkan model kaukasian untuk membawakan rancangannya yang memang dibuat dengan ukuran kaukasian. Lalu saya bertanya, apakah jika ia buka butik di Indonesia pun akan mengukur rancangannya sesuai ukuran kaukasian? Ini pola pikir yang aneh. Kadang hal itu juga terasa ironis, karena desainernya sendiri bertubuh mungil sementara modelnya tinggi menjulang dua kali lipat tinggi tubuhnya. Dilain hal, perempuan Indonesia pada umumnya memiliki tinggi rata-rata 155cm – 165cm termasuk didalamnya target konsumen dari pagelaran mode yang berada di kelas A.


Perbedaan Tarif Model Kaukasian dan Nusantara

Masih lekat di benak saya ketika berbincang dengan pengarah gaya dan peƱata rias serta jilbab dari Majalah Alia untuk sebuah pemotretan fashion spread dimana saya menjadi modelnya saat itu di tahun 2010. Perbincangan kemudian tiba-tiba bergulir hingga membicarakan tarif model.

“Sekarang model bule lagi banyak mbak, dan mereka mau dibayar Rp 800.000,- loh! Bule gitu!”, ujarnya dengan nada tercengang.

Lalu sebuah pertanyaan melintas dibenak saya.

“Jadi, kalau bule sewajarnya dibayar lebih mahal dari model negeri sendiri?”

Perbedaan tarif pun terjadi pada perhelatan pagelaran busana. Model-model Indonesia mempunyai tarif pemula rata-rata di angka Rp 300.000,- hingga maksimal Rp 1.000.000,- untuk sebuah show tunggal atau hairshow. Model pemula kaukasian bisa mendapat dua kali lipatnya dengan layanan memuaskan dari Agency, misalnya : diantar dan dijemput. Sementara model negeri sendiri yang berasal dari kalangan bawah seperti saya, harus berjibaku berangkat dan pulang menggunakan kendaraan umum.

****


Jelas ada yang salah dari cara pandang kita terhadap bangsa sendiri, jika kaukasian dianggap lebih baik dari bangsa sendiri dalam hal kualitas serta menjadi tolak ukur diterimanya mode Indonesia secara Internasional, seperti yang dikemukakan Muara Bardja, selamat kawan-kawan, kita telah tiba di era penjajahan dan diskriminasi usai 66 tahun merdeka. Kita mengalami kemunduran. Jepang dan Korea telah mengadaptasi kemunduran ini dengan maraknya melakukan operasi plastik demi mendapatkan wujud sempurna anatomi wajah sesuai anatomi wajah kaukasian sebagai tolak ukurnya, yaitu; mata yang besar dan hidung yang mancung.

Apakah kita akan jadi bangsa berikutnya yang akan kehilangan jati dirinya dan membenci apa kita yang kita punya? Atau memang itu yang diinginkan dari industri ini agar kesadaran remaja dan wanita Indonesia dikaburkan dan akhirnya mendukung kehidupan industri yang ditopang oleh konsumsi-konsumsi mereka untuk jadi yang sempurna ; mata berwarna, berkulit putih, tinggi dan hidung yag mancung, sesuai dengan apa yang digembar-gemborkan media? Sudah saatnya kita merenung kawan…

Senin, 31 Oktober 2011

Ruangan-ruangan


Ini adalah hari-hari di mana matahari menyapa terlalu pagi, melalui teralis pembatas yang dipantulkan cermin ke dinding putih. Ia tak tertidur bagai putri, dalam mimpi berkelebat kecemasan yang mungkin baru berakhir ketika pantai dengan deburannya yang mematikan disusul keheningan samudra, menelan semua yang fana. Terbangunlah dia kearah cahaya. Entah sejak kapan, tak berani lagi menatap wajahnya dalam cermin terlalu lama, karena di sana ada sipir yang menuntut kejujuran sedangkan yang ia punya hanya sebongkah kebohongan yang terus merasuk, hingga mata urung melihat bahwa masih ada indah tersisa. Yang terlanjur hancur, dapatkah dibangun kembali?


Pertanyaan ini masih melayang-layang lepas dari talinya. Berayun ke sana kemari tanpa menemukan sebuah danau dan kemudian berenang bersama ubur-ubur bercahaya kekuningan.


Angin mengalir, semilir, setitik hujan lalu turun…


Kesedihan ada banyak dalam ruangan-ruangan yang berjumlah lebih dari delapan belas kamar. Perempuan-perempuan yang berada didalamnya punya berbagai masalah yang berbeda. Seperti suatu pagi, ia mendengar sebuah percakapan telepon dari kamar sebelah, penghuni kamar sebelah adalah istri dari seorang suami yang tidak ingin tinggal bersamanya. Ada nada kepasrahan ketika ia menjawab pertanyaan 'mengapa?'. Rasa tidak percaya diri, bergantung, jadi satu, dan menjadikannya menelan pahit sebuah kenyataan daripada beranjak untuk mencari hal lain walau kenyataan itu sangat menyedihkan, hal ini terdengar dari lirihnya ia menjawab pertanyaan temannya ditelepon.


Lalu apakah kebahagiaan itu?


Dia kembali memandangi langit-langit setelah selesai mendengarkan percakapan dari kamar seberang. Bukankah bahagia itu racun dan adiktif? Segera setelah mencicipinya kamu akan segera minta lagi, lagi dan lagi. Lalu ketika kamu tak kunjung mendapatkannya, kamu akan mengakhiri hidup…


Lalu disebelah kanan ruangan lainnya, ada seorang ibu tua, menjadi penghuni kamar. Dia pun teringat ibunya di rumah. Hatinya tak habis bertanya mengapa ia menyewa kamar di sini? Bukan tinggal di rumah, bersama suami atau abu suami jika telah ditinggalkan, atau suami baru sebagai teman menjalani hidup hingga akhir. Pernahkah kita berpikir mengapa manusia makhluk sosial? Karena kesendirian yang dikejar oleh Christopher McCandless, berakhir dengan merindukan keramaian.


Lalu ada dirinya, seorang gadis tanpa cermin. Ia tak punya keinginan terpendam untuk jadi orang lain. Ia hanya punya keinginan terpendam untuk tiada. Agak sulit hidup ketika mata dan otaknya terlampau aktif. Ia memikirkan lumba-lumba yang tiap bulan September berlari ketakutan dan akhirnya mati ditombak. Anjing yang dipukuli hingga mati. Sapi dan kambing yang selalu jadi kurban tiap tahun dan selalu melalui proses yang menyedihkan. Orang utan yang dipenggal kepalanya. Gajah yang dibakar hidup-hidup karena dianggap hama. Serakah itu jahat, dan manusia selalu serakah. Dan dia adalah salah satu manusia yang hidup…


Kini ia siap berangkat, lebih pagi dari biasa. Ia ingat langkahnya, gesekan antara kulit tangannya saat ia menuruni tangga dan berpegangan pada relnya, cara membuka pintu gerbang, menutupnya sepelan mungkin, melewati kucing-kucing – termasuk kucing dengan kumis hitler, kicauan burung yang terperangkap, menaiki tangga, lalu berhenti dan mengetuk sebuah pintu yang masih tertutup rapat. Tiap akan mengetuk, ia berdebar khawatir…


Apakah pintu itu benar-benar terbuka untuknya?




Kemanggisan, kos baru...

Selasa, 26 Juli 2011

Halo Ayah...

Halo Ayah, kita bertemu lagi tahun ini…


Butuh perjalanan selama kurang lebih empat jam untuk menuju tempatmu berada, sesuai keadaan lalu lintasnya saja. Kami berangkat menggunakan bis dari terminal Baranangsiang, Bogor, yang menuju Pelabuhan Ratu. Bis kosong sekali, hanya ada enam penumpang, tiga diantaranya adalah kami. Aduh, Ayah, bagaimana si supir setoran kalau macam ini? Namun bapak supir beserta kernetnya yang baik mengantar kami hingga sampai ke rumahmu dan disitulah kamu berada, bertengger di atas bukit, menghadap ke arah jalan raya yang dilalui berbagai macam bis antar kota maupun angkutan umum sekitaran.


Butuh mendaki sedikit untuk mengetuk rumahmu, oh lihat, banyak pepohonan tumbuh, kamu memberi kehidupan kepada bumi, kamu tahu itu Ayah? Dengan adanya pohon-pohon ini, kamu jadi tidak terlalu kepanasan bukan. Ini ada dua anakmu beserta Ibu, yap mantan istrimu datang, bawa bunga warna warni, cantik sekali. Semoga kamu, nenek dan adik nenek menyukainya.


Kami tidak lama-lama bertamu, seperti biasa, kami mengejar senja agar dapat kembali lagi ke Bogor. Kami pamit dan bertolak untuk mengunjungi pantai. Sudah nyaris sepuluh tahun lewat, sejak terakhir kita ke sini. Hotel masih berdiri di sana-sini, sawahnya masih sama, di depan sawah ada sebuah restoran. Perut keroncongan karena sudah masuk jam makan siang. Kami singgah untuk melepas lapar, menggantinya jadi kenyang.


Nasi, ikan, cumi, kangkung segera terhidang di meja, kami menyantapnya bertiga sambil memandangi laut. Ombak selalu besar di Pelabuhan Ratu, membuat orang-orang ketakutan diterjangnya. Hidangan masih tersisa namun perut kami sudah penuh nian, ikannya terlalu besar untuk kami santap bertiga, dan kami memutuskan untuk membawa pulang sisanya. Mataku tertuju pada bangunan di dekat sawah, mirip tempat sampah, ada seseorang mengais-ngais di sana, tadinya ku pikir ia adalah pemulung, namun setelah ku perhatikan lebih seksama, ia mengais sampah lalu memasukkannya ke mulutnya! Ayah, kamu tahu mataku rabun jauh, jadi kutanya adik,


“Dik, dia itu sedang makankah?”


Oh Ayah, adik terkejut, dan mungkin kamu juga – jika kamu berada di sana, menyaksikan seorang manusia makan dari tempat sampah. Kami bertiga tanpa kompromi dengan senang hati membagi makanan dengannya, dan ia dengan lahap memasukkan nasi ke mulutnya. Ayah, mulai hari itu, aku akan mensyukuri semua makanan yang tersaji dan berusaha makan tanpa meninggalkan sisa. Aku tidak akan cerewet mengenai rasa, karena aku telah melihat sendiri ada orang mengunyah SAMPAH.


Ayah, kami masih tetap mengejar senja. Aku berharap, bahwa orang tadi, yang ku duga mengalami gangguan jiwa, mendapatkan tempat yang lebih baik dan kepedulian diberikan makanan oleh orang sekitarnya malam ini, ataupun hingga esok, esok dan esooook seterusnya.


Ayah, bis kami melewati rumahmu lagi ketika menuju pulang. Aku dan adik melambaikan tangan ke arah bukit, kau mungkin tidak akan melihatnya karena kau tertidur dalam tanah. Jika kau masih hidup mungkin sekarang kita sedang bertengkar tentang Pram, ahmadiyah, bom atom, hadist-hadist yang perlu ditinjau ulang terutama tentang hukum pernikahan dan perempuan, hukum KDRT, kehamilan di luar nikah, lesbian, homo, baju yang seharusnya ku kenakan, pacarku, hukum ekonomi dan mungkin poligami.


Kematian adalah sebuah misteri Ayah, pada hal-hal tertentu, nyawa bisa lepas secara tiba-tiba. Yang menakutkan dari kematian adalah bukan rasa sakitnya, namun terlupakan bukan? Aku pastikan bahwa selalu ada ruang untuk mengingatmu apapun kenangannya, baik atau buruk, dan kamu masih hidup, di sini, dalam kromosom yang membentuk adanya diriku. Jadi selama aku hidup, kamu tidak akan pernah hilang…


Ayah, selamat tidur…




Slipi, setelah hujan besar sekali.

Selasa, 05 Juli 2011

Tidung Dalam Sekam


Tidung adalah satu dari beberapa kepulauan seribu yang tersebar di teluk Jakarta. Ketenarannya yang sekarang diawali oleh sebuah liputan dari sebuah biro perjalanan bernama ‘Jalan-jalan’ yang kemudian didokumentasikan dalam bentuk artikel di majalah bulanan mereka. Hal itu terjadi kira-kira dua tahun lampau. Kini, semua mata penduduk ibukota, khususnya Jakarta, menoleh kepadanya ketika hari libur tiba. Mereka kabita ingin berlibur di pulau kecil tersebut, disambut oleh penduduk yang ramah, serta berenang diantara terumbu karang sambil dikelilingi ikan-ikan hias yang tadinya hanya bisa dilihat dalam akuarium raksasa di Ancol.


Macam memakai susuk, pesona Tidung menebarkan magnet bagi orang banyak, seperti pemandangan pagi ini (2/7) di Muara Angke, ratusan orang memenuhi pelabuhan yang menyediakan kapal menuju Tidung dengan harga yang cukup terjangkau, yaitu sekitar tiga puluh lima ribu rupiah. Saking padatnya, para pelancong berebut untuk mendapatkan tempat di kapal. Panitia perjalanan masing-masing grup akan sibuk bernegosiasi dengan Kapten kapal yang ternyata kadung banyak janji dengan banyak perusahaan, demi meraup untung yang lebih banyak lagi.

Perjalanan Muara Angke-Tidung dengan kapal biasanya membutuhkan waktu sekitar 2,5 jam. Namun hari itu dibutuhkan waktu lebih banyak karena kapal tiba-tiba mogok dan mengeluarkan asap berbau solar. Kapten kapal terlihat panik, para abk sibuk memompa dan mencari masalah pada mesin kapal. Para penumpang kelihatan khawatir dan memegang erat pelampung yang sudah dibagikan sebelum berangkat. Tak lama kemudian, kapal dapat melaju lagi hingga sampai ke dermaga tidung 3 jam kemudian, meleset setengah jam dari biasanya.

Para pelancong tak sabar turun. Ada yang cepat-cepat karena ingin ke wc, ada yang muntah-muntah karena mabuk laut, ada yang memang sudah siap untuk melancong. Sebelum memulai petualangan yang biasa ditawarkan, pelancong dipersilahkan beristirahat di rumah penduduk yang biasa dijuluki “homestay”. Dulu, warga tidung mungkin belum berpikir untuk mempunyai lebih dari satu rumah, namun kini, rata-rata mereka mempunyai dua rumah, satu untuk keluarga dan satu lagi untuk disewakan. Seiring dengan permintaan, kini rumah-rumah yang disewa rata-rata memiliki pendingin ruangan di setiap kamarnya.

Menelusuri jalan menuju penginapan atau homestay, mengingatkan akan gang-gang kecil dekat rumah ketika saya kecil. Tidung yang sederhana, kini berkembang begitu pesat, di kanan kiri bergantung spanduk penyewaan alat snorkeling, serta berjejer-jejer penginapan dengan fasilitas yang disesuaikan dengan kegemaran orang kota; alas tidur dari kasur busa berpegas, televisi, serta pendingin ruangan.

Pulau Tidung dapat dicapai dengan sepeda dari ujung ke ujungnya, saya melihat ada bangunan Puskesmas yang kelihatannya masih baru, kantor pemerintahan daerah, sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, tempat pemakaman umum dan markas polres. Saya tidak menemukan bank, atm, toko handphone dan elektronik ataupun mini market di sana. Warga harus menyebrang lautan jika ingin menabung, menerima transfer, atau membeli bahan-bahan untuk berjualan seperti mie instant, makanan kecil; kacang, kuaci, dan sukro atau membeli handphone sebagai alat komunikasi dengan berbagai panitia perjalanan yang ingin melepas penat di pulau tersebut.

Uang berputar dengan cepat di Tidung dua tahun terakhir, perkembangannya terlampau pesat. Warga yang tadinya bercocok tanam, pencari ikan yang merantau hingga luar pulau, kini nyaris semuanya beralih profesi menjadi tur guide, pengusaha penyewaan alat snorkeling, membuka warung makan atau pemilik penginapan, contohnya Halim. Ia adalah tur guide rombongan saya untuk dua hari ini. Umurnya sekitar 25 tahun. Badannya atletis, mata agak menyipit dan berbicara dengan logat yang unik. Macam logat pulau luar Jawa.


Halim sebelumnya berprofesi sebagai pencari ikan bagi sebuah perusahaan. Tugasnya adalah menggiring ikan untuk masuk ke dalam jaring, jaring akan ia pegang di kedalaman 5 meter, kemudian ditariknya ke atas, hingga semua ikan terkepung dan ia pun muncul dipermukaan. Namun kini Halim berhenti melakukan pekerjaan itu dan memilih menetap di Tidung dan menjadi tur guide. Ia bertanggung jawab menjemput tamu di dermaga, mengantar mereka ber-snorkeling, membakarkan ikan jika tamu meminta barbeque pada malam hari, dan menyiapkan sepeda agar tamu dapat menuju jembatan cinta yang tersohor dari penginapan mereka masing-masing.

Halim masih bertalian saudara dengan orang yang sering ia panggil Babeh. Babeh adalah pemilik penginapan yang kami tempati, rumah Babeh, terletak diseberangnya. Rumah yang cukup besar namun gayanya masih sederhana. Babeh adalah sesepuh Tidung atau orang yang dituakan dan dihormati oleh para pemuda di sana.

Malam itu Tidung disambangi awan Commulus Nimbus yang mengantarkan hujan deras. Babeh menemani tamunya dan bercerita, tentang asal-usul nama jembatan cinta yang pemilihan namanya tak lebih dari sekedar untuk menarik perhatian pelancong, tentang asal usul penduduk Tidung yang ternyata berasal dari Kalimantan, tentang tanaman mangkok yang awalnya tumbuh menghiasi halaman tiap rumah, kini sudah dibabat berganti menjadi pagar tetap hingga memicu Babeh untuk berpikir bahwa Tidung butuh penghijauan kembali, kesadaran warganya bahwa Tidung punya potensi ekonomi dari pariwisata sehingga mereka menolak tiap investor yang datang untuk membeli tanah mereka.

“Lalu setelah dua tahun ini, apa yang berubah dari Tidung?”, tanya saya.

Seorang teman Halim ikut dalam obrolan santai ini, yang juga kerabat Babeh. Ia kemudian menjawab pertanyaan saya.

“Perubahan paling besar terjadi pada warga, terutama masalah sosial, persaingan bisinis yang tumbuh, bikin kita jadi ber blok-blok, kalau kumpul, kita gak pernah bener-bener nyatu, ya semua bakalan balik lagi ngumpul sama blok.nya masing-masing, blok barat sama barat, blok timur sama timur. Kalau misalnya blok barat ngadain selametan, blok timur gak pengen bantuin diriin tenda, dulu mah enggak kayak gitu…”, ujarnya.

Hujan masih mengguyur Tidung ketika saya masuk untuk tidur dan berlanjut dengan gerimis kecil keesokan paginya. Matahari pun diselimuti dengan kabut sehingga ia tidak menampakkan diri di balik awan seperti biasanya. Tukang bangunan sibuk membangun rumah disana-sini Tidung. Warung gorengan, nasi uduk, mi rebus, diserbu pelancong yang kelaparan mencari sarapan. Pagi itu semua orang menuju pantai dengan sepeda, bettor (becak motor), atau berjalan kaki, menikmati hari terakhir mereka sebelum pulang kembali ke kota.

Ombak menjilat-jilat pasir di tepian, sebagian mengantarkan tumpukan sampah plastik yang mengambang. Dalam dua tahun Tidung telah berubah banyak, dan berbagai permasalahan kini mengancam Tidung, mulai dari lingkungan hingga persaingan antar warga. Oh, Tidung berada dalam sekam…



*Slipi, dari lantai 20 diantara deadline aplikasi, Mimit, saya menepati janji saya untuk bertandang ke pulau itu, dan saya menulis ini untukmu…

Rabu, 22 Juni 2011

Selintas

Jika saya berpikir macam itu lagi, ini jadi sebuah beban baru yang berlapis-lapis. Beban saya terhadapmu kawan, yang menginginkan hidup, yang masih optimis hingga hari akhirmu. Saya merasa berdosa kepadamu karena keinginan ini masih sering selewat datang dalam benak saya. Kawan, jika nyawa bisa ditukar, saat itu saya akan berikan untuk kamu segera, karena duniamu terlalu riuh untuk ditinggalkan sementara dunia saya terlalu sepi untuk ditinggali...


Maafkan saya Kawan...




*pikiran yang sering selintas datang