Selasa, 01 Oktober 2013

30 September


Foto diambil dari pramukanewss.blogspot.com
Saya selalu bergidik ketika mendengar kata PKI. Kesadaran saya ditimpa oleh cuci otak rezim Soeharto yang mengharuskan saya dan teman-teman sebaya lainnya menonton film G30SPKI yang diputar hingga tengah malam. Saya selalu ketiduran, filmnya panjang. Namun propaganda untuk melihat PKI sebagai kuman berhasil, buktinya meski kini saya tahu bagaimana sejarah yang sebenarnya, tetap saja sisa-sisa efek cuci otak masih hinggap dalam alam sadar yang diterpa habis-habisan ketika masa umur emas saya.

Tanggal 30 September keramat karena memiliki peristiwa bersejarah yang berdarah, tanggal 30 September pemicunya, pemicu gerakan lain selang beberapa bulan kemudian, ya kakek saya yang harus ditahan karena PKI, ya Ibu dan nenek saya yang dikumpulkan di gua jepang, ditanya-tanya apakah mereka gerwani atau tidak? Rasanya bukan hanya di Padang saja situasi jadi mencekam, nyaris diseluruh bagian di Indonesia.
Saya ingat ketika sedang bahas film dokumenter The Act of Killing disutradarai oleh Joshua Oppenheimer yang menampilkan pembunuh para warga sipil yang diduga PKI, preman di Medan, Anwar Congo, dengan pacar selagi ia dipijat. Kami sedang bertukar pertanyaan tentang bagaimana Joshua membesut film tersebut tanpa membuat Anwar Congo dan kerabatnya curiga alih-alih malah terbuka selebar-lebarnya bahkan cenderung menambah-nambahkan aksi. Mbok pijit yang juga mendengar kemudian ikut bercerita.

Tahun 1965, mbok pijit masih belia, ia adalah anak petani di Madiun. Ia bercerita tahun itu situasi sangat mencekam, rumahnya berkali-kali didatangi tentara untuk diperiksa, ditanya kemana Ayahnya pergi. Mbok pijit menyampaikan dengan acak bahwa sang Ayah bersembunyi dibalik padi-padian kering. Beberapa hari, sang ayah lolos dari pencarian tentara, namun tidak malam itu.

Sebenarnya, seharusnya saya tidak pernah bertanya ‘akhir’ dari ceritanya, karena jawabannya adalah “Bapak tidak pernah pulang…”, mbok pijit kemudian terhenti, terdiam, lalu melanjutkan memijit dalam diam. Seperti ada kenangan pahit yang ia tak ingin diingat, namun sudah terlanjur terkuak.

Pembicaraan tidak dilanjutkan, namun pikiran saya melayang-layang. Habis sudah Ayah si mbok, mungkin entah dikumpulkan dalam satu lubang lalu ditembaki, entah ditembak lalu dibuang ke sungai, entahlah… Mengetahui kenyataan tersebut rasanya lidah saya kelu, rasanya tidak sanggup lagi membayangkan. Namun itu sejarah. Ibu saya, si mbok, hanyalah salah satu dari ribuan orang-orang yang anggota keluarganya hilang akibat ikut serta dalam organisasi tersebut. Dan pembinasaan dianggap benar kala itu atas dasar ketakutan serta rumor yang disebarkan.

Saya tidak pernah benar-benar merasakan menjadi anak-anak yang orang tuanya dicap PKI, yang dikeluarkan dari pekerjaannya karena PKI. Ibu saya saja hingga sekarang selalu bilang bahwa, Ayahnya dituduh PKI karena namanya sama dengan pemimpin PKI kala itu. Pemimpin yang mana? Entahlah, nama kakek saya adalah Baharuddin. Namun yang menarik adalah, ada dugaan ‘pelarian’, ‘penyangkalan’ atas alasan dari Ibu saya tersebut. Ibu saya masih beruntung, diantara anak-anak PKI lainnya yang tidak diperbolehkan mengenyam pendidikan, ia bisa melanjutkan pendidikan hingga tingkat Sekolah Menengah Farmasi dan kemudian pergi ke Jakarta untuk bekerja.

Siaran radio hari ini pun bahas masalah G30SPKI, jika kalian perhatikan, masih saja ada banyak orang yang tercuci otaknya akibat film G30SPKI besutan orde baru. Hidup memang rasanya lebih indah jika tutup mata dan telinga. Karena paparan untuk mencapai hal yang sebenarnya bisa saja lebih sulit dan sangat berliku, hingga kita akhirnya lebih suka meninggalkan buku yang belum habis terbaca.



1 Oktober, Slipi Kemanggisan, satu dini hari.

Rabu, 04 September 2013

Sebuah Opini untuk Perahu Kertas 1



Oke, sebelum saya menumpahkan semuanya, ingin rasanya mengingatkan pembaca bahwa saya sedikit lagi berumur tiga puluh tahun, tidak pernah punya latar belakang semanis dalam film ini, tukang kritik, tapi yang perlu digaris bawahi bukan karena hal-hal itu saya mengkritik film ini, in fact I LOVE Reza, he is a talented and promising actor, namun lebih karena memang saya menemukan kejanggalan dan kelebayan yang memang harus diungkapkan bahwa hal ini kurang sesuai realita

Mari kita mulai.

Tersebutlah Kugi, seorang gadis belia yang manis yang sangat ngefans pol sama yang namanya dongeng dan dengan bekal itu berangkat kuliah ke Bandung mengambil kuliah jurusan Sastra. Setelah beberapa lama ngekos di Bandung, tau-tau temannya punya saudara sepupu yang datang dari Belanda, mau kuliah juga di Bandung, ambil ekonomi, namanya Keenan. Kugi punya kebiasaan unik, yaitu menciptakan ‘radar neptunus’ yang terbit dari dongeng impiannya. Kugi nyaris selalu menemukan hal-hal yang benar dengan radar neptunusnya, tak terkecuali ketika mereka kesulitan mencari Keenan di stasiun kereta kota Bandung yang ramai.

Keenan merasa kepribadian Kugi menarik, gadis yang semangat untuk mengejar mimpi jadi penulis. Sementara dirinya harus kuliah ekonomi pilihan Ayahnya, sementara cita-citanya yang paling dalam adalah melukis. Karena Kugi-lah Keenan percaya bahwa ia juga bisa menghidupkan mimpinya. Keenan yang tampan, segera jadi rebutan, apalagi ketika Grace (benarkah namanya?) seorang gadis cantik, blasteran, yang orang tuanya adalah pemilik Galeri kenamaan, datang mendekati Keenan.

Meski pada awalnya Keenan dibohongi oleh Grace yang bilang bahwa lukisannya laku, dan jadi PEDE kejar mimpi, padahal lukisan dibeli ortu Grace semua, namun sudah kepalang tanggung, Keenan ingin mengejar impiannya menjadi pelukis. Ia pun berangkat ke Bali, meninggalkan kuliahnya untuk jadi seorang pelukis. Sementara Kugi, lulus jadi sarjana Sastra, magang di sebuah kantor advertising teman kakaknya. Menjadi anak magang Kugi harus pasrah cuma dapat kerjaan fotokopi dan bikin kopi atau teh, hingga suatu saat ketika tim kreatif yang sedang brainstorming kehabisan ide, lalu Kugi muncul dengan ide brilian.

Voila! Sejak saat itu Kugi pun jadi karyawan tetap dan diserahkan tanggung jawab untuk memimpin tim kreatif yang biasanya tugas ini dipegang oleh Art Director dalam sebuah advertising, tapi di sini dipegang Kugi yang posisinya copywriter. Kugi yang mempunyai kepribadian menarik segera menarik hati Art Directornya yang juga teman kakaknya, kebiasaan mereka jalan dan makan berdua, membuat mereka dekat dan lalu saling jatuh hati.

Sementara Keenan? Berusaha keras untuk menjadi pelukis, ia banyak mendapat nasihat dan semangat melalui Kian, gadis Bali yang perhatian padanya. Lukisannya kebanyakan terinspirasi oleh cerita yang Kugi tulis ketika dulu masih kuliah dan menjadi pekerja sosial mendirikan taman baca untuk anak-anak desa.
Kemudian pada akhir film, Keenan yang hidup terpisah di Bali tiba-tiba dikunjungi sang Ibu yang membawa kabar buruk. Ayahnya jatuh sakit. Stroke sudah yang ketiga kalinya. Untuk melindungi perusahaan sang Ayah, ia harus mengambil alih tampuk kepemimpinan.

Baiklah, begitulah cerita singkat dari Perahu Kertas bagian 1. Apa yang mengganggu dan menjadi masalah saya ketika menontonnya? 

Terlalu manis untuk sebuah kenyataan di luar sana yang pahit. Ah, namanya juga film. Saya pikir, film, meski fiksi, harus lebih mendidik dan kalau boleh meminjam ucapan Berto Tukan, seorang teman yang rajin menulis untuk Remotivi - tidak nirproses ketika menceritakan sebuah profesi ataupun terjadinya suatu sebab akibat. Jika itu yang terjadi, sama saja dengan menjual mimpi.

Meski saya bukan copywriter yang terlalu baik namun saya tahu bagaimana pekerjaan ini beserta hirarkinya harus dijalankan. Pertama, anak magang. Bagi perusahaan, anak magang adalah tenaga gratis untuk menyumbangkan produktifitas sebanyak-banyaknya tanpa perlu dibayar. Lalu untuk apa bikin teh, kopi atau hanya fotokopi? Hal itu sudah dilakukan oleh office boy. Kebanyakan anak magang mengerjakan pekerjaan sesuai bidang yang ia tekuni. Karena semakin produktif ia, semakin menguntungkan pula bagi perusahaan.

Kedua, memang banyak, anak magang yang berbakat dengan segera dipinang perusahaan untuk menjadi aset mereka. NAMUN - sengaja pakai huruf besar, dalam perusahaan selalu ada HIRARKI atau yang namanya JENJANG KARIR. Tidak bisa seorang anak magang yang ingin jadi Junior Copywriter tiba-tiba langsung loncat menduduki posisi pemimpin tim kreatif yang biasanya dilakukan oleh Art Director, fatal ini, tanya di agency iklan manapun enggak bakalan ada hal-hal yang begini. Jadi calon copywriter yang menonton film ini, please don’t believe this part of the story, truly madly DONGENG. Dari junior copywriter kamu jadi copywriter, terus berkarya selama bertahun-tahun dan mungkin kalau kamu masih betah sama kantornya, kamu bisa saja jadi Art Director.

Ketiga, pacaran dengan Art Director. Saya belum pernah mengadakan survey, tapi dosen saya, seorang copywriter yang malang melintang di perusahaan advertising besar. Ketika bercerita, ia memang akan selalu menggunakan kata ‘pacaran’ atau ‘berantem mesra’ dengan art directornya untuk menggarap sebuah ide kampanye, tapi tidak berarti jatuh hati. Bagi saya keadaan pacaran atau saling jatuh hati, akan membuat situasi tidak lagi objektif, seorang art director tidak akan bisa menilai pekerjaan copywriter dengan semestinya, demikian pun sebaliknya. Menurut saya sih, kalau ada situasi seperti ini, kayaknya advertising tersebut pasti bisa runtuh.

Keempat, Keenan yang ingin jadi pelukis, kemudian harus pulang dari Bali ke Jakarta untuk memimpin perusahaan Ayahnya yang tiba-tiba kehilangan tampuk kepemimpinan karena Ayahnya sakit. Bukan enggak mungkin sih, bisa saja, tapi tentunya tidak secepat itu juga, pulang langsung kerja, mimpin ini itu. Tentunya sang ayah punya asisten yang lebih dipercaya untuk mengatur perusahaan dan mengajarkannya sedikit demi sedikit kepada Keenan. Bukan langsung take over gitu kan?

Kelima, saya agak terganggu dengan banyaknya kedekatan yang berbuah hubungan entah antara Kugi dengan art directornya ataupun antara Kugi dengan Keenan. Hingga akhirnya membuat saya berpikir, bahwa apakah tidak bisa perempuan dan laki-laki menjadi teman dekat tanpa adanya sebuah perasaan perasaan tambahan yang spesial? Jika memang begitu, dunia kok jadi gak asyik yah?


Kemanggisan, pukul dua tiga puluh dini hari.

Jumat, 05 Juli 2013

Ternyata Amerika bisa mirip sinetron Indonesia juga

Beberapa kali menonton film seri The Mentalist yang saya pinjam dari kakak tiri saya, yang sangat tomboi sehingga jika kalian bertemu dengannya tentu akan panggil mas atau bang. Ia mempromosikan bahwa film ini super seru, maka saya yang tertarik dengan ketampanan tokoh utama, langsung menerima beberapa volume film dan bersiap menontonnya.

The Mentalist bercerita tentang beberapa kasus yang ditangani oleh biro investigasi California. Ini memang cerita tentang film detektif, yang menjadi menarik adalah ada seorang cenayang yang ikut dalam tim, ia adalah Patrick Jane. Bagaimana ceritanya seorang Patrick Jane dapat bergabung dengan tim investigasi ini? Kecongkakannya sebagai cenayang membuatnya menjadi korban dari pembunuh serial yang diberi nama Red John. Segera setelah ia menyebut Red John dalam sebuah acara televisi, pembunuh ini menghabisi istri dan anaknya, meninggalkan sebuah logo khas smiley besar dari darah keduanya di dinding rumah Patrick Jane.

Sejak saat itu Jane memohon untuk masuk ke dalam tim biro investigasi untuk membantu menyelesaikan kasus Red John yang tidak kunjung selesai. Hingga saya menonton sampai season 2 film seri ini, Patrick Jane nyaris berhadapan dengan Red John sebanyak dua kali.

Patrick Jane diperankan oleh Simon Baker, sementara atasannya Teresa Lisbon diperankan oleh Robin Tunney, anggota tim lainnya adalah Wayne Rigsby yang diperankan oleh Owain Yeoman, Tim Kang menghidupkan karakter Kimball Cho yang super lempeng, dan Grace Van Pelt diperankan aktris cantik Amanda Righetti. The Mentalist ditulis oleh Bruno Heller.

Tergoda untuk menuliskan sebuah episode dalam season pertama yang sangat menganggu nalar. Episode tersebut diberi judul A Dozen Red Roses, dimana istri Simon Baker, Rebecca Rigg, menjadi tokoh utama dalam episode tersebut. Sinetron Indonesia kebanyakan mengandung cerita dengan terlalu banyak kejadian nirproses, terlalu banyak kebetulan, terlalu banyak hal pemaksaan untuk membuat pembunuh mengakui kejahatannya, serta memaksakan sebuah skenario aneh yang akhirnya tentu jadi aneh. Hal inilah yang terjadi pada A Dozen Red Roses.

Kejadian nirproses dan skenario yang dipaksakan juga tampak dalam film seri Newsroom yang dibangun oleh Aaron Sorkin. Dalam episode I'll Try To Fix You, semua hal ini bisa kita lihat dalam episode ini. Padahal, sebuah cerita tentang profesi seperti yang dibangun oleh Newsroom jarang kita lihat dalam sinetron Indonesia yang lebih banyak bertema keluarga, kisah cinta dan cinta beda harkat. Namun akhirnya skenario Newsroom HARUS dikotori juga dengan kejadian nirproses yang siap dikomentari nalar yang sehat.

Masih banyak sih film Amerika lainnya yang dibangun dengan ketidak-rasionalitasan luar biasa, salah satunya yang bisa saya sebutkan adalah, Silent Hill. Film horor yang jadi trilogy.

Jadi mungkin sekarang akhirnya saya enggak bisa bilang lagi, "Tuh kayak film Amirika dong..." Hehehe.

Senin, 04 Maret 2013

Ternyata Tidak

Ternyata tidak sesederhana itu saya memahami. Ternyata tidak sesederhana itu saya mengerti. Tidak, semuanya tidaklah rumit. Namun saya tidak pernah percaya bahwa ada lubang menganga begitu besar atas sebuah kehilangan. Ternyata, saya tidak begitu peka.

Kehadiran saya tentulah tidak penting, karena sebenarnya tidak mungkin menghapus luka dan penyesalan yang begitu kentara. Ini dunianya. Ibarat orbit planet, saya adalah Bumi dan ia mungkin Jupiter, begitu besar dengan cincin yang melindunginya seakan-akan ingin berkata bahwa saya ini mempunyai banyak rahasia, saya kuat, saya tidak ingin berbagi.

Saya menghormati. Saya berempati. Pada apapun yang akan dilakukannya untuk sebuah kekosongan yang hampa agar tak lagi ada lubang besar terlalu menganga, agar ia dipenuhi cahaya. Saya lakukan apapun.

Kebahagiaan memang hakikatnya adalah dibuat. Saya membuat kebahagiaan saya dan meletakan pada dirinya. Tentunya lebih nikmat tertawa bersama dibanding sendirian. Tentunya lebih indah lihat matahari tenggelam bersama dibanding sendirian. Dan saya sudah memilih.

Ia kini menghembuskan do'a di atas sajadah dan saya menghembuskan do'a bagi alam raya agar membantunya setiap hari di mana pun ia berada. Do'a saya berupa harap, berupa mimpi, berupa nafas. Do'a saya setulus-tulusnya agar do'a yang ia lakukan bisa sampai dengan baik pada yang ia cinta.

Pada saat hari ini saya sadar bahwa ternyata tidak sesederhana itu adalah dirinya. Ia manusia penuh cinta ternyata. Maafkan saya terlambat menyadarinya...


Jumat, 15 Februari 2013

Life of Pi

Saya melihat sampul dari buku Life of Pi yang sungguh catchy sekitar 6 tahun lalu di kamar seorang teman. Ia bilang bahwa kisah buku ini bagus sekali. Namun, saya lupa mengapa saya enggan membacanya. Hingga akhirnya, 6 tahun kemudian, Life of Pi hadir dalam bentuk film. Jujur, ikut campur Ang Lee sebagai sutradara merupakan salah satu faktor saya mengukuhkan niat untuk nonton. Bagi pacar yang suka teknologi, dia bilang ingin sekali rasakan menonton film berformat 3D. Sempat alot karena pikiran sempit saya yang mengatakan bahwa 3D hanya terlihat bagus untuk film-film anime atau semacam Hobit. Tapi okelah, ayo kita coba!

Setelah masuk ke bioskop dan kerepotan sendiri karena harus pakai dobel kacamata, film pun akhirnya dimulai.

Cerita dimulai di Kanada, saat seorang penulis novel (Rafe Spall) mengunjungi seorang imigran India yang bernama Piscine Molitor (Irfan Khan). Si penulis menginginkan sebuah kisah nyata yang spektakuler dari Pi, panggilan Piscine, untuk bahan novelnya. Kisah pun berlanjut dan berkembang ketika Pi mulai menceritakan kisah hidupnya kepada sang penulis. Pi adalah anak kedua dari dua bersaudara dan memiliki masa kecil yang relatif bahagia dengan kedua orang tuanya, Santosh Patel (Adil Hussain) dan Gita Patel (Tabu), serta kakak laki-lakinya. Keluarga ini memiliki sebuah kebun binatang di Pondicherry, India. Di bagian masa kecil ini diperlihatkan bagaimana ketertarikan seorang Pi terhadap agama-agama seperti Hindu, Kristen, dan Islam. Bahkan dengan polosnya Pi berusaha memeluk tiga agama ini sekaligus. Seiring berjalan waktu, Pi tumbuh menjadi remaja normal (Suraj Sharma) dengan segala dinamika kehidupan, termasuk kisah asmaranya dengan seorang penari bernama Anandi (Shravanthi Sainath). Kehidupan mereka tampak tetap berjalan normal hingga terjadi masalah politik yang mengancam keberlangsungan kebun binatang milik keluarga Pi. Setelah rapat yang alot, keluarga ini dengan berat hati memutuskan untuk mengungsi ke Kanada beserta hewan-hewan kebun binatang mereka untuk memulai kehidupan yang baru.(paragraf ini diambil dari Agus Ferdinand)

Namun ditengah perjalanan, sebuah badai menghantam kapal yang mengakibatkan kapal tenggelam, tidak ada yang selamat kecuali Pi dan seekor Zebra yang patah kakinya karena meloncat panik ke sekoci, seekor Orang Utan, Hyena dan Singa Benggala yang bernama Richard Parker. Keberadaan dua karnivora dalam satu kapal adalah buruk. Benar saja, segera setelah hari berganti, Hyena menyerang Zebra dan Orang Utan, namun pada akhirnya Hyena diserang oleh Richard Parker. Berhari-hari terombang-ambing, hewan pun ternyata bisa frustasi, ketika Richard Parker akhirnya terlempar ke laut dan kemudian tidak dapat naik ke sekoci. Pi yang baik menyediakan jalan untuknya naik, dan memilih dirinyalah yang harus membangun perahu lain dari sisa-sisa tempat perbekalan di sekoci. Saat itu Pi mencari keagungan Tuhan dan kisah menakjubkan ini adalah sebuah tandanya. Jika kau memilih untuk percaya.

Setelah dimanjakan oleh angle dan pemandangan yang disuguhkan Ang Lee mulai dari awal hingga akhir film, humor dalam cerita, kematangan akting para pemainnya, ataupun harimau benggala yang terlihat sangat nyata, saya berdecak puas. Lalu apakah saya puas dan percaya pada Tuhan?

Saya pada nyatanya mungkin sedikit mirip Pi, melihat hewan punya jiwa mereka sendiri. Namun ketika hewan liar memandang saya secara bersahabat dengan logis saya akan setuju kepada ayah Pi, bahwa itu mungkin hanya pantulan dari perasaan saya. Bagaimana tentang Tuhan? Bagi saya, bumi dan isinya ataupun keajaiban yang terjadi diluar nalar hanyalah terjadi, tanpa campur tangan siapapun atau apapun. Saya percaya hidup adalah bagian dari sebab - akibat. Cinta yang paling abstrak pun demikian, terjadi karena sebuah sebab. Lalu di mana Tuhan? Saya tidak lagi mempertanyakan hal tersebut yang nantinya hanyalah akan berujung pada "Lalu Tuhan mana yang benar?"


 

Selasa, 15 Januari 2013

Makes me Alive




And I could not ask for more...


Rabu, 09 Januari 2013

Dilema CCIP 2013 pun selesai

Sebenarnya hingga hari ini saya masih menunggu email dari AMINEF loh, tapi karena terlalu lama akhirnya memutuskan untuk googling. Belum banyak kandidat CCIP 2013 yang memposting pengalamannya ataupun yang sudah lulus dan positif berangkat meraih beasiswa mereka masing-masing. Namun dari blog ini http://carakata.wordpress.com/2012/12/10/pengalaman-interview-ccip-2013-2014/ pada komen-komen dibawahnya, akhirnya saya menemukan berita bahwa nominasi sudah ditentukan pada tanggal 21 Desember 2012.

Sudah nyaris tiga minggu dari hari ini. Saya akhirnya menemukan jawabannya, tentu jadinya tidak penasaran lagi, tapi rasanya tambah sedih. Sebenarnya sih sudah sedih ketika adegan selesai wawancara di Nopember lalu, mas Aryo, salah satu panelis, mengejar dan memberikan saya sebuah nama yaitu Hikmat Darmawan untuk belajar tentang jurnalistik. Dari situ sih sudah sedih, karena meski terharu dengan perhatian yang diberikan, saya tahu bahwa 80% kemungkinan saya gagal. Dan ternyata benar.

Meski pada akhirnya dilema saya dengan biaya-biaya jadi terselesaikan tapi rasa kecewa terhadap diri sendiri jadi berlipat ganda. Pacar saya bilang jangan terlalu kecewa, saya bilang iya, tapi rasa ini terhadap diri sendiri tak bisa dibohongi ternyata, saya pura-pura tidak sedih dan kecewa, padahal mah... *mulai lebay.

Nah kegagalan yang ini akhirnya melengkapi kegagalan saya yang lainnya.

Horeeeeeeeee